SKENARIO PENYELESAIAN KASUS ANAK SD
SKENARIO VIDEO PENYELESAIAN MASALAH SISWA SD
KASUS 1 : MALAS
BELAJAR
SINOPSIS
Isna adalah seorang siswi kelas V di SD
Sumberadi. Disekolah, Isna termasuk siswa yang pandai dan berprestasi. Isna
selalu masuk ke dalam jajaran peringkat 3 besar di kelasnya. Akan tetapi
akhir-akhir ini nilai Isna turun sangat drastis dari sebelumnya. Hal itu
membuat Ibu Anis merasa sangat prihatin dan berniat untuk memanggil Isna ke
ruangannya untuk membicarakan masalah apa gerangan yang membuat nilai Isna
akhir-akhir ini menurun drastis. Setelah Ibu Anis memanggil Isna ke ruangannya
dan Isna menceritakan semua permasalahan yang dialaminya, diketahui bahwa yang
menyebabkan nilainya akhir-akhir ini turun adalah karena Isna selalu bermain dengan
teman-temannya ketika pulang sekolah dan akhir akhir ini ia tidak pernah belajar.
Isna mengaku ia selalu bermain dengan teman-temannya karena teman-temannya itu
mengancam tidak akan berteman lagi dengan Isna jika Isna tidak mau bermain
dengan mereka. Mengetahui hal tersebut, Ibu Annis menasehati Isna agar Isna
mulai menjauhi teman-teman Isna yang suka mengajak Isna bermain tanpa kenal
waktu karena hal tersebut bisa membawa pengaruh buruk bagi Isna dan prestasi
belajarnya. Selain itu, Ibu Anis juga menyarankan agar Isna mencari teman lain
yang sekiranya bisa memacu motivasi belajar Isna menjadi lebih baik sehingga
Isna bisa mengejar nilai-nilainya yang selama ini tertinggal.
SKENARIO CERITA
Isna
adalah seorang siswa kelas V di SD Sumberadi, Kebumen. Di sekolah, Isna
tergolong murid yang cerdas dan pandai. Ia selalu mendapatkan rangking di
kelasnya. Selain dikenal sebagai murid yang cerdas dan pandai, Isna juga
termasuk siswa yang ramah dan baik pada semua orang. Akan tetapi, akhir-akhir
ini nilai Isna menurun drastis dari sebelumnya. Sekarang Isna menjadi lebih
sering bermain dengan teman-temannya dari pada belajar.
Setting
1 : Di depan rumah Isna
Pada
suatu sore, ketika Isna sedang asyik belajar di teras depan rumahnya, datanglah
Tanti dan Luluk yang mengajaknya untuk bermain.
Luluk :
“Isnaaa...ayoo kita main..”
Isna :
“Engga ah..aku kan sedang belajar..besok mau ada ulangan IPA”
Tanti :
“Ah udah ngga usah belajar. Ngapain sih pake belajar segala. Kaya
kita
doong...ngga sekolah dan freee dari belajar..” haha (tertawa
lebar)
“Iya
ngga luk?” (memandang Luluk)
Luluk :
“Iya betul sekali tan..buat apa juga belajar. Ngga ada gunanya..kaya
kita
doong..ngga sekolah, bebas, lepas, tanpa bebaaaan!”haha
(tertawa
lebar)
“Ayo
isna..kita main ayoo” (sambil menyeret tangan Isna)
Isna :
“Eehh..aku tidak mauu..” (menarik tangannya)
Tanti :
“Ayo Isnaaa..ngga usah belajaar. Main aja sama kita ayooo”
(menyeret-nyeret
tangan Isna)
Isna :
“Tapi kan aku mau belajar..”
Luluk :
“Ah yaudah deh kalo Isna ngga mau main sama kita, kita pergi aja
yuk
Tan. Biarin aja dia ngga punya temen”. (sewot)
Luluk :
“Iya biarin aja! Kita sih ngga mau yaa punya temen kaya Isna yang
selalu
ngga mau kalo diajak main. Huh males banget deeh”
(melengos)
Luluk
dan Tanti kemudian meninggalkan Isna. Tak lama kemudian Isna mengejar mereka
dan mengatakan bahwa ia mau bermain dengan mereka karena Isna takut ia dijauhi
oleh Luluk dan Tanti.
Setting
2 : Di sekolah
Setelah
selesai mencocokkan hasil ulangan Matematika, Ibu Anis memanggil satu per satu
nama siswa untuk memasukkan nilai mereka ke dalam daftar nilai.
Bu Anis :
“Iya anak-anak..sekarang Ibu akan memanggil satu per satu nama
kalian
untuk memasukkan nilai kalian ke dalam daftar nilai. Bagi
yang namanya dipanggil segera mengatakan nilainya ya..”
Seluruh
siswa : “Iyaaaa Buu...” (kompak)
Bu
Anis : “Baiklah..Resti?”
Resti : “80 bu”
Bu
Anis : “Zizah?”
Zizah : “90 Bu”
Bu
Anis : “Luluk?”
Luluk : “70 Bu”
Isna : “45 Bu”
Bu
Anis : (Menggelengkan kepalanya)
Tak
lama kemudian bel istirahat berbunyi
Bu
Anis : "Baiklah, karena bel
istirahat sudah berbunyi maka kalian
boleh
beristirahat”
Seluruh
siswa : “Yeeeeeeeee” (menghambur keluar)
Saat
anak-anak tengah beristirahat, Ibu Annissa masuk ke kantor untuk merekap nilai ulangan
anak anak. Setelah direkap, diketahui bahwa yang mendapatkan nilai terendah
adalah Isna. Ibu Annissa merasa sangat prihatin dengan nilai-nilai Isna yang
akhir-akhir ini menurun sangat drastis. Ibu Annissa berencana memanggil Isna ke
ruangannya untuk membicarakan masalah itu.
Sepulang
sekolah, Ibu Annisaa mendekati Isna yang tengah bersiap untuk pulang.
Ibu
Annissa : “Isna, sudah mau pulang ya?”
(menjejeri Isna)
Isna : “Iya bu..”
Ibu
Annissa : “Em....Ibu ingin berbicara
sebentar Isna..”
“Isna
bisa ke kantor ibu sebentar?”
Isna : “Bicara tentang apa ya Bu?”
(takut)
Ibu
Annissa : “Bukan tentang apa-apa, Ibu
hanya ingin ngobrol-ngobrol sebentar
dengan
Isna. Bagaimana? Isna bisa?” (tersenyum)
Isna
: “Iya bisa Bu..”
Ibu
Annissa : “Baiklah, ayo kita ke
ruangan Ibu..”
Isna
: “Iya Bu..”
Tak
lama kemudian sampailah mereka di ruangan Ibu Annissa..
Ibu
Annissa : “Mari Isna silahkan duduk”
(menarik kursi untuk duduk Isna)
Isna
: “Iya bu” (duduk di kursi
yang sudah disediakan).
“Sebenarnya ada apa ya Bu memanggil saya
kesini?”
Ibu
Annissa : “Begini Isna, Ibu lihat,
akhir-akhir ini nilai kamu kok selalu turun
ya?”
Isna : “Eh..apa benar begitu Bu?”
(berpura-pura tidak tahu)
Ibu
Annissa : “Iya Isna..ini coba lihat daftar
nilai-nilai kamu” (mengambil buku
daftar nilai)
“Ini
Isna” (menunjukkan nilai yang tertera pada daftar nilai)
“Nilai IPS mu 40, IPA 56, PKN 60,
kemudian yang terakhir nilai
Matematika
mu 50” (menggelengkan kepala)
Isna
: “Oh iya ya Bu...”
(menunduk)
Ibu Annissa : “Begini Isna, Isna sebenarnya ada masalah apa kok akhir-akhir
ini
nilai-nilai Isna menurun drastis seperti ini?”
Isna :
“Sebenarnya begini Bu, saya itu sekarang jarang sekali belajar Bu”
(tetap
menunduk)
Ibu
Annissa : “Loh memangnya kenapa kok
Isna sekarang jarang belajar?”
(menatap
Isna penuh perhatian)
Isna :
“Saya itu kalo sedang belajar diajak bermain sama teman-teman
saya
Bu, mereka itu mengatakan kalau mereka tidak mau berteman
lagi dengan saya jika saya tidak mau
bermain dengan mereka.”
Ibu
Annissa : “Oh begitu..jadi yang
menyebabkan nilai Isna akhir-akhir ini turun
adalah
karena Isna selalu bermain dan takut tidak punya teman kalo
Isna itu menolak ajakan teman-teman untuk
bermain?”
Isna
: “Iya Bu..”
(menganggukkan kepala sambil menunduk)
Ibu
Annissa : “Emm..Isna kalo main sama
teman-teman itu kemana saja?”
Isna
: “Ya kemana aja
Bu..kadang ke pantai, ke gunung, kadang ke
rawa..gitu
gitu lah Bu..”
Ibu
Annissa : “Wah..mainnya jauh ya?”
Isna
: “Iya Bu...”
Ibu
Annissa : “Biasanya itu Isna mainnya
kapan? Setelah pulang sekolah atau
sore harinya?”
Isna
: “Biasanya saya sepulang
sekolah langsung main Bu..”
Ibu
Annissa : “Oh..terus kalau sepulang
sekolah langsung main pulangnya
kapan?”
Isna
: “Pulangnya malem
Bu..abis magrib biasanya..”
Ibu
Annissa : “Emm...terus sepulang main
itu apa yang dilakukan oleh Isna?”
Isna
: “Kalo udah pulang main
itu saya tidur Bu, soalnya capek”. Hehe
(tertawa
kecil)
Ibu Annissa : “Oh seperti itu..jadi itu yang menyebabkan Isna menjadi malas
belajar..”
Isna :
“Iya Bu..saya sebenernya juga kepengin belajar tapi tiap saya mau
belajar selalu diajak main sama
teman-teman”.
Ibu
Annissa : “Memangnya teman-temannya
Isna itu tidak belajar kok selalu
bermain
seperti itu?”
Isna
: “Tidak Bu...teman-teman
saya itu tidak sekolah”.
Ibu
Annissa : “Oh jadi temen-teman Isna
yang selalu mengajak Isna main itu
tidak
sekolah?”
Isna
: “Iya Bu, mereka itu
tidak sekolah jadi sukanya bermain terus”
(menunduk)
Ibu
Annissa : “Emm..Isna punya teman lain
tidak selain mereka?”
Isna
: “Punya Bu..tapi sekarang
kami sudah tidak akrab karena saya
sekarang
jarang bermain dengan mereka”.
Ibu Annissa : “Begini Isna, menurut Ibu, mulai sekarang sebaiknya Isna
menjauhi teman- teman Isna yang tidak
bersekolah itu. Mereka itu
kan tidak bersekolah ya Is, jadi kalau mereka bermain juga tidak
kenal waktu seperti itu. Mulai sekarang Isna
coba mencari teman
lain yang sekiranya tidak membawa pengaruh
jelek seperti itu ke
Isna dan bisa membangkitkan motivasi belajarnya
Isna yang
selama ini menurun. Apalagi Isna kan sekarang
sudah kelas VI,
sebentar lagi ujian, Isna tidak boleh seperti
ini terus..ya?”
(tersenyum)
Isna
: “Iya Bu..Isna akan
berusaha”.
“Tapi
kalo teman-teman Isna yang dirumah selalu mengajak Isna
main
terus bagaimana Bu?”
Ibu Annissa : “Begini Isna, mengenai hal tersebut..Isna harus mepunyai sikap
yang asertif. Isna harus bisa berkata tidak
jika Isna tidak ingin terus
menerus diganggu oleh mereka. Isna harus
bersikap tegas pada
mereka supaya mereka merasa segan pada
Isna dan tidak
sembarangan lagi mengajak Isna bermain
di waktu belajar.
Semua
tergantung pada diri Isna sendiri, jika Isna mau, pasti Isna
bisa”
Isna
: “Iya Bu..”
“Apa nilai-nilai Isna yang selama ini turun
masih bisa dikejar Bu?
Isna
takut tidak bisa mengejar nilai-nilai
Isna yang selama ini turun
Bu. Isna takut sekali.”
Ibu
Annissa : “Isna tidak boleh takut
seperti itu, Isna itu anak yang pintar..Isna
pasti
bisa mengejar ketertinggalan nilai Isna selama ini, apalagi ini
baru
awal semester, masih banyak waktu yang bisa Isna manfaat
kan
untuk mengejar ketertinggalan Isna. Percayalah Isna, jika ada
kemauan,
pasti ada jalan.” (tersenyum)
Isna
: “Iya Bu..terimakasih
sebelumnya”
Ibu
Annissa : “Sama-sama Isna, buktikan ya
pada Ibu kalau Isna bisa? Ibu akan
sangat bangga jika kamu mau berubah dan memperbaiki
kesalahan
-kesalahanmu sebelumnya. kembalilah
menjadi Isna yang dulu
yang selalu rajin belajar dan selalu
menjadi juara kelas. Ibumu juga
pasti akan sangat bangga melihat anaknya
yang cantik ini memiliki
prestasi yang patut dibanggakan di sekolah”.
Isna
: “Iya Bu.Isna akan
beusaha menjadi Isna yang dulu lagi”
(tersenyum)
Ibu
Annissa : “Bagus Isna, ibu senang
sekali mendengarnya.
Nah, sekarang apa masih ada hal lain yang
ingin Isna sampaikan
pada
Ibu?”
Isna
: “Tidak Bu”
Ibu
Annissa : “Baiklah, kalau begitu Isna
sekarang boleh pulang. Terimakasih ya
sudah mau meluangkan waktu untuk
bercerita pada ibu”
(tersenyum ramah)
Isna : “Iya sama sama Bu.
Terimakasih atas nasihatnya.
Isna pulang dulu ya Bu..” (bangkit dari
tempat duduknya)
Ibu
Annissa : “Iya Isna..hati hati ya
pulangnya” (bangkit dari tempat duduk lalu
mengantar
Isna keluar)
Isna : “Iya Bu.. “ (menyalami Ibu
annissa)
“Assalamualaikum Bu”
Ibu
Annissa : “Waalaikumsalam Isna”
(tersenyum lega)
KASUS 2 : MEMBOLOS SEKOLAH
SINOPSIS
Pada suatu pagi ketika Ibu Annissa
hendak menuju ke kantor, Ibu Annissa melihat seorang siswi tengah menangis
sesenggukan dibawah pohon ketapang. Melihat hal tersebut, Ibu Annissa segera
mendekati siswi tersebut yang ternyata adalah Isnaini Safitri, anak didiknya
sendiri. Ibu Annissa begitu kaget melihat Isna yang biasanya ceria menangis
sesenggukan seperti itu. Karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 7 dan bel
tanda masuk sudah berbunyi, maka Ibu Anis menyarankan agar saat itu Isna
mengikuti pelajaran terlebih dahulu kemudian setelah pulang sekolah Ibu Annisa
menyuruh Isna untuk ke ruangannya membicarakan masalah apa yang menyebabkan
Isna menangis.
Dengan
tetap menangis, akhirnya Isna mematuhi perintah ibu Anis dengan masuk ke kelas
dan mengikuti pealajaran. Saat pelajaran berlangsung, Isna tetap saja menangis
hingga teman-temanna yang lain mengejeknya. Melihat hal tersebut, akhirnya Ibu
Annissa mengajak Isna untuk ke ruangannya menceritakan apa yang sebenarnya
terjadi. Di ruangan Ibu Anis, Isna menceritakan semua permasalahan yang
menyebabkan ia menangis. Ia mengatakan bahwa yang membuatnya menangis adalah
karena tadi pagi ia dimarahi ibuna karena ketahuan membolos sekolah. Ibu Annisa
begitu kaget mengetahui Isna membolos dari sekolah. Ibu Annissa kemudian
menanyakan apa yang menyebabkan Isna membolos sekolah. Isnaini kemudian
mengatakan bahwa yang menyebabkan ia membolos dari sekolah adalah karena dia
merasa bosan dan tidak nyaman di sekolah. Ia bosan karena di kelas ia tidak
memiliki teman dan ia juga merasa tidak nyaman dengan sikap Ibu Lorita, guru
IPA yang selalu mengatakan bahwa dia itu nakal dan mengatakan bahwa keluarganya
itu nakal. Mengetahui hal tersebut, Ibu annissa menyarankan agar mulai saat ini
Isna bergabung dengan teman-teman ketika mereka sedang bermain agar Isna merasa
tidak bosan di kelas. Kemudian mengenai Ibu Lorita, Ibu annissa mengatakan
bahwa ia akan mengkomunikasikan permasalahan Isnaini itu pada Bu Lorita
Keesokan harinya.
Keesokan harinya, Ibu Annissa
mengkomunikasikan apa yang dialami Isna pada Bu Lorita. Bu Lorita kemudian
mengatakan bahwa yang sebenarnya membuatnya berkata seperti itu pada Isnaini
adalah karena Bu Lorita merasa jengkel pada Isna yang tidak pernah
memperhatikan penjelasannya saat ia mengajar dengan selalu menggambar sendiri.
Ibu Annissa memaklumi apa yang dirasakan oleh Bu Lorita, tapi Ibu Annissa mengingatkan
pada Bu Lorita agar Bu Lorita tidak berlaku seperti itu lagi pada Isna karena
hal itu membuat Isna sangat tidak nyaman di sekolah. Selain itu, hal itu juga
dapat membuat Isna merasa malu, drop dan tertekan yang nantina akan mengganggu
perkembangan psikisnya. Ibu Annis juga menyarankan agar jika Bu Lorita merasa
terganggu dengan sikap Isna yang selalu tidak memperhatikan penjelasannya, Ibu
Annissa menyarankan agar hal itu dibicarakan secara pribadi agar tidak membuat
Isna malu pada teman-temannya.
SKENARIO CERITA
Pada
suatu hari, Isna, siswi kelas V di SD Ranterejo, berangkat
ke sekolah sambil menangis sesenggukan di sepanjang jalan. Ia baru saja
dimarahi oleh ibunya karena ketahuan membolos dari sekolah.
Setibanya di sekolah,
Isna tidak langsung masuk ke kelas, ia malah duduk di bawah pohon ketapang
sambil terus menangis sesenggukan. Tak lama kemudian, lewatlah wali kelas Isna,
Ibu Annissa Wibi Sanjaya yang biasa di sapa Ibu Anis. Saat itu, Ibu Anis baru
saja tiba di sekolah dan hendak menuju ke ruang kantor ketika tiba-tiba ia
melihat ada seorang anak perempuan yang sedang menangis di bawah pohon
ketapang. Melihat hal tersebut, Ibu Anis segera menghampiri anak tersebut yang
ternyata adalah Isna, muridnya sendiri. Ibu Anis begitu kaget melihat Isna yang
tidak biasanya menangis seperti itu.
Ibu
Anis : “Loh
Isna?”
(duduk disamping Isna)
“Isna
kenapa menangis?”
(heran)
Isna : “Tidak
apa-apa,
Bu.”
(mengelak)
Ibu
Anis : “Masa
tidak apa-apa menangis seperti itu. Coba sekarang
Isna ceritakan pada Ibu kenapa Isna
menangis.”
(penuh perhatian)
Isna : (Terus
menangis sesenggukan) “Isna
tidak kenapa-kenapa, Bu.” (menutup mukanya)
Tak lama kemudian bel masuk kelas
berbunyi.
Ibu
Anis : “Hmmm. Ya sudah begini saja, sekarang kan
sudah masuk, kita ke kelas saja dulu ya. Nanti bisa kita bicarakan hal ini
saat pulang sekolah. Bagaimana, Isna?”
Isna : “Iya, Bu.” (ragu)
Ibu
Anis : “Ya
sudah kalo begitu, ayo kita masuk
ke kelas dulu.”
(memapah Isna untuk bangun)
Isna : (bangun
dari tempat duduk sambil terus menangis)
Ibu
Anis : (menuntun
Isna memasuki ruang kelas)
“Sudah,
sudah jangan menangis terus,
Isna. Malu
sama teman-teman di kelas.”
Isna : “Iya, Bu.” (berhenti menangis)
Ibu
Anis : (tersenyum)
Tak lama
kemudian, sampailah mereka berdua di dalam kelas. Ibu Anis selaku guru mata
pelajaran Matematika sekaligus wali kelas Isna langsung memberikan materi
kepada murid-muridnya. Saat pelajaran tengah berlangsung, Isna tetap saja
menangis. Luluk, teman yang duduk di sebelah Isna berulang kali menasehati Isna
agar Isna tidak menangis di kelas, tetapi Isna tidak mempedulikan nasihat Luluk
dan terus menangis. Mengetahui hal tersebut, saat bel istirahat berbunyi, Ibu
Anis langsung menghampiri Isna.
Ibu
Anis : “Loh, Isna kok menangis terus?” (duduk di samping kursi Isna)
Isna : (terus
menangis sesenggukan)
Ibu
Anis : “Hmmm. Begini saja, ayo kita ke ruangan Ibu
sekarang, disana Isna bisa menceritakan semua masalah
yang menyebabkan Isna menangis
tanpa takut di tertawakan teman-teman. Bagaimana? Isna mau?”
Isna : (mengangguk
sambil terus menangis)
Ibu
Anis : (tersenyum) “Baiklah, ayo kita ke ruangan Ibu
sekarang.” (menuntun
Isna berjalan menuju ruang kantor)
Setting
2 Ruang Kantor
Ibu
Anis : “Ayo, silahkan duduk, Isna.” (menarik kursi untuk duduk Isna)
Isna : “Iya, Bu.” (masih terus menangis)
Ibu
Anis : “Sudah
sudah jangan menangis.
Ini
ibu punya tissue.” (mengambil
tissue dan mengusap air mata Isna)
Isna : (masih
terus menangis)
Ibu
Anis : “Sudah
Isna, sekarang
Isna tenang dulu.”
Isna : (berhenti menangis)
Ibu
Anis : “Nah,
sekarang coba kamu ceritakan pada Ibu mengapa Isna tadi pagi menangis?”
Isna : “Begini
Bu, tadi pagi itu saya di marahi ibu
saya.”
(sambil sesenggukan)
Ibu
Anis : “Dimarahi
kenapa,
anak manis?”
Isna : “Saya
ketahuan membolos Bu.”
Ibu
Anis : “Membolos?” (kaget)
Isna : “Iya, Bu.” (menundukkan kepala)
Ibu
Ani : “Memangnya
Isna kenapa kok membolos dari sekolah?”
Isna : “Saya
itu merasa bosan sekali di sekolah bu, saya merasa tidak nyaman disini.”
Ibu
Anis : “Memangnya
kenapa kok Isna meras bosan dan tidak nyaman di sekolah?”
Isna : “Ya
bosan saja,
Bu. Saya
merasa tidak memiliki teman di sekolah.”
Ibu
Anis : “Oh
begitu. Nah, selama ini Isna kalau main sama siapa?”
Isna : “Tidak
pernah main,
Bu. Saya
biasanaya hanya di kelas sendiri.
Makanya
saya bosan sekali. Selain
itu, saya tidak suka dengan Ibu Lorita,
Bu.”
Ibu
Anis : “Memangnya
kenapa dengan Bu
Lorita,
Isna?”
Ada masalah apa dengan
beliau? (memegang tangan Isna dengan penuh perhatian)
Isna : “Saya
merasa kesal sekali dengan Bu Lorita,
Bu. Saya
merasa diperlakukan dengan tidak baik. Dia itu sering sekali mengatakan bahwa saya itu nakal dan sering
mengata-ngatai
keluarga saya, Bu. Katanya, keluarga saya itu keluarga
yang selalu membikin onar
dan nakal. Padahal
kan kenyataannya tidak seperti itu,
Bu”
(kembali menangis)
Ibu
Anis : “Iya
iya.
Ibu
tau bagaimana perasaaannya.”
(memandang penuh simpati) “Hmmm. Apa Isna tau kenapa Bu Lorita
bersikap seperti itu pada Isna?”
Isna : “Saya
tidak tahu,
Bu.”
(menggelengkan kepala)
Ibu
Anis : “Ya sudah begini saja. Isna sekarang memaklumi dulu saja
ya mengenai sikap Bu Lorita yang
seperti itu pada Isna.
Mungkin Ibu Lorita mempunyai alasan mengapa beliau berlaku
seperti itu pada
Isna. Sekarang
Isna tenang dulu ya. Nanti
Ibu akan berbicara dengan Bu
Lorita
mengenai masalah ini.”
Isna : “Iya, Bu” (menganggukkan kepala sambil tetap
menunduk)
Ibu
Anis : “Nah
kemudian,
untuk maslah Isna yang merasa bosan di kelas, Isna sebaiknya mulai saat ini
bergabung dengan teman-teman.
Misalnya
ketika teman-teman Isna sedang bermain atau
berkumpul
bersama, Isna bergabung saja di sana. Mereka juga pasti tidak keberatan kalau Isna bergabung dengan mereka. Teman-teman juga pasti akan merasa
senang jika Isna turut bergabung
dengan mereka karena teman bermain mereka tentu akan
semakin banyak.”
(penuh perhatian)
Isna : “Iya, Bu. Tapi saya mohon bimbingannya ya
supaya saya bisa bergaul
dengan baik bersama teman-teman yang lain.”
Ibu
Anis : “Iya
Isna, dengan senang hati Ibu akan membimbing Isna agar Isna dapat bergaul dengan baik
bersama teman-teman. Nah baiklah,
kalau
begitu sekarang Isna boleh kembali ke kelas, tapi janji ya tidak menangis lagi?”
Isna : “Iya, Bu. Isna
kembali ke kelas dulu ya,
Bu.”
(bangkit dari tempat duduknya)
Ibu
Anis : “Iya, Isna. Hati-hati ya.” (bangkit dari tempat duduknya dan mengantar Isna keluar)
Isna : “Iya, Bu.” (menyalami Bu Annissa) “Assalamu’alaikum.”
Ibu
Anis : “Wa’alaikumsalam.”
Saat Ibu Anis hendak kembali ke kelas,
Ibu Anis berpapasan dengan Bu Lorita.
Ibu
Anis : “Eh, Bu Lorita. Sebentar, Bu.” (menghentikan langkah Bu Lorita) “Hmm. Bu
Lorita, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda sebentar.” (tersenyum)
Ibu
Lorita : “Oh
ada apa ya,
Bu?”
(curiga)
Ibu
Anis : “Eh
tidak apa-apa,
Bu.
Saya
hanya
ingin ngobrol-ngobrol sebentar. Kita duduk sana sebentar ya, Bu.” (menunjuk kursi di bawah pohon ketapang) “Bagaimana, Bu Lorita? Bisa?” (tersenyum ramah)
Ibu
Lorita : “Eh, baiklah.” (sewot)
Mereka kedua kemudian berjalan menuju ke
kursi yang ada dibwah pohon ketapang
Ibu
Lorita : “Sebenarnya
Bu Anis ini mau ngomongin apa sih?”
Ibu
Anis : “Silahkan
duduk dulu,
Bu.”
(tersenyum ramah)
Ibu
Lorita : “Oke
oke.”
Ibu
Anis : “Eh, begini Ibu Lorita. Saya di sini ingin membicarakan maslah Isna, murid kelas V.”
Ibu
Lorita : “Oh
Isna. Ada
apa ya dengan anak nakal itu?”
Ibu
Anis : “Begini, Ibu. Tadi pagi itu Isna berangkat ke
sekolah dalam keadaan
menangis. Nah,
kemudian saya menghampirinya dan
menanyakan
padanya mengapa dia itu menangis. Lalu Isna itu bercerita
kepada saya kalau dia tadi pagi menagis karena malamnya
dia baru saja dimarahi oleh ibunya
karena ketahuan membolos sekolah pada hari Selasa kemarin. Setelah saya tanya
kenapa dia itu membolos dari sekolah, dia mengatakan bahwa salah satu faktor
yang menyebabkan dia membolos dari sekolah adalah karena dia itu kurang suka
dengan Bu Lorita.”
Ibu
Lorita : “Oh, begitu ya?” (cuek)
Ibu
Anis : “Iya, Bu. Dia itu mengatakan bahwa dia kurang
suka dengan sikap
Bu Lorita yang selalu mengatainya nakal dan mengatakan kalau keluarga Isna juga
nakal.”
Ibu
Lorita : “Oh, memang kenyataannya seperti itu, Bu.” (memotong pembicaraan Ibu Anis)
“Isna
itu kalau di kelas nakal sekali,
Bu.
Saya mengatakan bahwa Isna itu nakal adalah hal yang sangat wajar. Dia itu ya
Bu, kalau di kelas saat saya mengajar, dia malah asyik menggambar sendiri, Bu. Kadang menggambar gajah-gajahan,
badak-badakan,
bahkan pernah ya Bu, saya
itu melihat dia sedang menggambar
saya. Bayangkan,
Bu!
Apa
yang Ibu rasakan saat diseperti itukan oleh murid sendiri? Saya merasa sangat tidak dihargai. Bu. Jadi, ya wajar saja kalau saya mengatai
dia itu nakal.
Apalagi ya Bu, dilihat dari
latar belakang keluarganya Isna, keluarganya itu memang urakan dan amburadul sekali
Bu. Jadi
wajar sekali kalau saya mengatakan dia itu anak nakal yang berasal dari
keluarga nakal. Ibu Anis juga pasti akan mengatakan demikian jika Ibu Anis
mengetahui keluarganya
itu seperti apa.” (marah)
Ibu
Anis : “Iya
iya,
Bu. Saya
tau rasanya bagaimana. Sebagai
seorang guru, pasti akan merasa sangat tidak dihargai apabila ada siswanya yang
berlaku seperti itu. Tapi Ibu, disini saya hanya ingin menghimbau pada Ibu Lorita agar tidak mengata-ngatai Isna lagi di depan kelas
dengan mengatakan bahwa Isna itu anak yang nakal. Mungkin apabila Ibu Lorita
tidak suka dengan kelakuan Isna, Ibu Lorita bisa memanggilnya secara pribadi ke
ruangan Ibu sehingga dia tidak merasa malu di depan teman-temannya, Bu.”
Ibu
Lorita : “Eh
begini ya Bu, untuk memanggil Isna secara pribadi mungkin saya tidak sanggup
Bu, karena saya itu sudah terlanjur sakit hati dengan Isna dan sudah malas sekali berurusan
dengannya,
Bu. Karena dia itu sangat nakal,
Bu.”
Ibu
Anis : “Iya, Bu. Saya mengerti perasaan Ibu. Begini
saja Bu, saya hanya meminta Ibu untuk tidak mengata ngatai Isna di depan kelas
karena itu bisa membuat Isna malu dan drop hingga akhirnya tertekan, Bu. Hal tersebut tentu akan
mengganggu perkembangan psikisnya,
Bu.”
Ibu
Lorita : “Iya
baiklah. Tapi untuk berbicara langsung dengan Isna saya tidak menyanggupi ya, Bu.” (cuek)
Ibu
Anis : “Iya, Bu. Kalau itu nanti saya yang akan
berbicara langsung dengannya,
Bu. Dan nanti untuk masalah Isna yang suka menggambar sendiri di kelas hingga
membuat Ibu Lorita sakit hati,
saya sendiri yang akan membicarakannya dengan Isna, Bu.”
Ibu
Lorita : “Oke
baiklah.”
Ibu
Anis : “Iya, Bu. Terima kasih
sekali atas pengertian Bu Lorita.”
(tersenyum
lega)
Ibu
Lorita : “Oke
oke. Eh, sudah ya, Bu. Karena ini sudah siang, jadi saya mau ke kantin dulu.” (bangkit dari tempat duduknya)
Ibu
Anis : “Oh, iya silahkan, Bu. Mohon maaf sebelumnya sudah mengganggu waktu istirahat Bu
Lorita.”
(bangkit dari tempat duduknya)
Ibu
Lorita : “Iya, tidak apa-apa Bu. Santai saja. Ya sudah Bu, saya pergi dulu.” (menyalami Ibu Anis)
Ibu
Anis : “Iya, Bu. Silahkan.”
Keesokan harinya, saat Bu Anis tengah berjalan
menuju ruang kantor, dia
melihat
Isna yang tengah asyik menggambar sendirian di kelas. Ibu Anis segera menghampiri Isna
untuk membicarakan hasil diskusinya
bersama Bu Lorita.
Ibu
Anis : (memasuki
ruang kelas Isna)
”Eh, Isna. Isna sedang apa kok sendirian saja? Mana teman-temannya?” (duduk menjejeri Isna)
Isna : (melihat
siapa yang datang kemudian tersenyum)
“Eh. Ibu Anis. Iya, Bu. Teman-teman Isna sedang ke kantin, Bu.” (tersenyum)
Ibu
Anis : “Oh,
Isna tidak ikut ke kantin?
Isna : “Tidak, Bu. Isna sedang menggambar. Coba lihat, ini gambar Isna, Bu. Bagus kan? (menunjukkan hasil gambarnya)
Ibu
Anis : “Wah, iya bagus sekali. Isna hebat ya?”
Isna : (tersenyum, kemudian melanjutkan menggambar)
Ibu
Anis : “Hmmm. Begini, Isna. Ibu ingin berbicara masalah Ibu Lorita.”
Isna : (cemberut)
“Kenapa
dengan dia Bu?”
(cuek)
Ibu
Anis : “Begini, Isna. Kemarin, Ibu Anis sudah membicarakan masalah Isna kepada Bu Lorita. Kemudian, Bu Lorita mengatakan kalau Bu Lorita melakukan hal tersebut
karena Bu Lorita itu kesal pada Isna yang selalu tidak memperhatikan Bu Lorita
saat mengajar. Bu Lorita
juga
mengatakan bahwa Bu Lorita
tidak suka dengan sikap Isna yang suka menggambar sendiri saat Bu Lorita mengajar.”
Isna : “Ooh.” (cuek)
Ibu
Anis : “Nah, sekarang kan kita sudah tahu apa yang
menyebabkan Ibu Lorita berlaku seperti itu pada Isna. Sekarang begini, mulai
sekarang, Isna jangan menggambar sendiri ya kalau sedang pelajarannya Bu
Lorita. Isna harus benar-benar memperhatikan Bu Lorita ketika beliau
menjelaskan agar beliau tidak jengkel lagi pada Isna. Lagian kan hal itu juga
baik untuk Isna sendiri. Isna
jadi mengerti apa yang disampaikan oleh Bu Lorita dan nantinya juga Isna akan
lebih mudah menyerap ilmu dari Bu Lorita. Isna mau?
Isna : “Iya, Bu.” (mengangguk)
Ibu
Anis : “Bagus sekali. Ibu senang
mendengarnya.
Mulai sekarang, Isna harus
membuktikan pada Bu Lorita bahwa Isna itu bukan anak nakal seperti yang di
katakan oleh Bu Lorita. Isna harus mampu menunjukkan pada Bu Lorita bahwa Isna
itu anak baik yang berprestasi
di sekolah. Bagaimana?
Isna setuju?”
(tersenyum)
Isna : “Iya, Bu.”
Ibu
Anis : “Baiklah
kalau begitu, hanya itu yang ingin ibu sampaikan pada Isna. Ibu sekarang kembali ke kantor dulu
ya,
Isna. Silahkan dilanjutkan lagi menggambarnya. Selamat siang.” (bangkit dari tempat duduknya lalu
berjalan menuju kantor)
Isna : “Selamat
siang,
Bu.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar